Ya Alloh, Lepaskan Derita Palestina …

Posted on January 5th, 2009 in SoRot by taufiq

Adalah suatu kebiadaban manusia berhati setan di dunia ini, yang dengan bangganya berperilaku merusak dan memporak-porandakan bumi, menghancurkan segalanya, dengan pongah berdalih mendamaikan dunia, namun … selalu, selalu, dan selalu berulah memicu … perang, perang, dan perang baru, seolah tak rela bila bumi ini sejenak merasakan damai dan tenang, benar-benar semakin tegas menunjukkan bahwa merekalah sesungguhnya sekumpulan bangsa-bangsa zionis berkedok anti-teroris atau setan yang menyusup bangsa Yahudi dengan tujuan membinasakan manusia di muka bumi.

Semoga Alloh swt yang Maha Kuasa dan Maha Pengampun, segera membukakan hati mereka dan memberikan petunjuk kepada mereka agar kembali ke jalan yang benar, bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa adalah untuk bersatu memelihara bumi, bukan merusaknya.

 blarrr.jpg  menangis.jpg   korban zionis A Palestinian woman wounded in Israeli missile strikes is helped into the emergency area at Shifa hospital in Gaza City, Saturday, Dec. 27, 2008     Palestinians carry the body of a Palestinian killed in an Israeli missile strike in Rafah, southern Gaza Strip, Saturday, Dec. 27, 2008.    Israeli rockets struck Gaza City’s main security compound and densely populated streets on December 27, 2008.

Pahlawan Yang Baru Menjadi Pahlawan

Posted on November 12th, 2008 in SoRot by taufiq

Yach ngulang lagi dech !. Berhubung postingan saya sebelumnya dengan judul yang sama hilang akibat crash HD blog server, maka saya akan mencoba mengingat kembali apa yang telah saya tuliskan saat saya posting tepat tanggal 10 Nopember 2008 lusa kemarin, maklum tulisan-tulisan saya tanpa ada back-up. Berikut ini tulisannya :

Allohu Akbar … Allohu Akbar … Allohu Akbar … MERDEKA ATAU MATI!

Dan … penantian itupun berakhir sudah. Setelah belasan tahun terdiam, menunggu, hingga tenggelam dalam arus waktu, penantian itupun sampailah pada ujungnya. Tepat pada tanggal 10 Nopember, di peringatan hari Pahlawan, Presiden SBY telah memberikan penghargaan kepada sang Pahlawan arek Suroboyo yang bernama Sutomo atau lebih dikenal dengan sebutan Bung Tomo, sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Penghargaan ini tergolong cukup lama dinantikan oleh banyak pihak yang telah berikhtiar dalam perjuangannya dengan cara ber’demo’ melalui berbagai media, termasuk tulisan saya di blog ini (http://taufiq.blog.unair.ac.id/2008/11/06/pahlawan-tanpa-tanda-pahlawan/).

Dulu, saat presiden Republik Indonesia masih dipegang Soeharto, keluarga Bung Tomo pernah ditawari oleh Presiden Soeharto untuk memindahkan makam Bung Tomo dari pemakaman umum (Ngagel) ke Taman Makam Pahlawan. Tetapi keluarga Bung Tomo dengan tegas menolak, karena wasiat Bung Tomo sebelum wafat adalah bahwa beliau hanya ingin jasadnya dimakamkan di pemakaman umum. Alasan beliau, karena Taman Makam Pahlawan yang sekarang bukan lagi tempat makam bagi orang yang benar-benar Pahlawan. Penolakan ini sontak membuat Soeharto kecewa. Dan, kalau boleh saya berpersepsi, bahwa mungkin inilah awal dari tenggelamnya nama besar Bung Tomo dari deretan dan nominator Pahlawan Nasional Indonesia.

Kini, setelah belasan tahun lamanya, … setelah masyarakat menuntut dan ‘menggugat’, … akhirnya perjuangan itu telah bersambut. Tanggal 10 Nopember 2008, di peringatan hari Pahlawan itu, diumumkan pemberian penghargaan bagi Bung Tomo sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Seketika seakan purna-lah penantian ini.

Namun, meski telah bersemat label Pahlawan Nasional, seakan tak merubah apapun sikap kebersahajaan keluarga Bung Tomo. Keluarga beliau tak akan memindahkan makam Sang Pahlawan itu dari Pemakaman Umum Ngagel. Untuk saat ini, keluarga hanya ingin makamnya tetap seperti semula di pemakaman umum, karena itu adalah wasiat beliau.

Sungguh … untuk kesekian kalinya, kita harus mengambil hikmah dari Sang Pejuang Arek Suroboyo itu, bahwa embel-embel Pahlawan tidaklah begitu penting, menghargai dan meneladani sikap seorang Pahlawan itulah yang sungguh paling penting.

Allohu Akbar … Allohu Akbar … Allohu Akbar … MERDEKA!

Pahlawan tanpa tanda Pahlawan

Posted on November 6th, 2008 in SoRot by taufiq

Bung TomoSepuluh Nopember, adalah tanggal bersejarah bagi bangsa Indonesia. Sepuluh Nopember, adalah selembar dari ribuan lembar dalam album perjuangan milik Nasional. Sepuluh Nopember pun telah dicanangkan sebagai Hari Pahlawan secara Nasional. Dan … Indonesia pun memperingatinya sebagai wujud pengakuan atas pengorbanan dan keberanian arek-arek pejuang Suroboyo yang telah berhasil mengusir penjajah Belanda beserta sekutunya dari bumi Surabaya Indonesia.

Kalau Boleh saya bertanya, bayangan apa yang ada dibenak kita tentang icon di Hari Pahlawan itu ?. Siapakah tokoh yang paling bisa kita ingat pada peringatan hari Pahlawan itu ?. Saya yakin Anda semua pasti tahu, bahwa memang beliaulah seorang pejuang yang terus-menerus memompa semangat arek-arek pejuang Suroboyo saat terjadi perang yang meletus pada 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Mari kita ingat lagi, pada tanggal itu kota Surabaya yang kini bergelar Kota Pahlawan, dibombardir dengan peluru oleh tentara Sekutu dari segala arah, dari darat, laut maupun udara dengan senjata yang jauh lebih canggih daripada pejuang Surabaya yang hanya bersenjata Bambu Runcing. Dua puluh ribuan pejuang gugur pada pertempuran itu. Surabaya memerah, Surabaya bersimbah darah. Merah Darah pejuang-pejuang itu tercecer kemana-mana hingga di sebuah jembatan yang kemudian disebut Jembatan Merah. Dan … Jembatan Merah itu, adalah saksi sejarah yang masih dirawat hingga kini.

ALLOHU AKBAR! .. ALLOHU AKBAR! .. ALLOHU AKBAR! .. MERDEKA ATAU MATI!. Itulah penggalan kalimat pengobar semangat oleh Bung Tomo kepada arek-arek pejuang Surabaya yang diyakini dapat memberi extra power sehingga benar-benar menimbulkan keberanian dan dorongan semangat untuk terus maju tanpa takut mati demi mempertahankan tanah air. Berani berjihad dan mati syahid melawan musuh meski hanya bersenjatakan sebatang Bambu Runcing. Inilah jihad yang sebenarnya.

Bung Tomo adalah tokoh pengobar semangat pejuang bangsa. Bung Tomo-lah yang berada dibalik kesuksesan sejarah pejuang arek Suroboyo. Dunia pun mengakuinya, semua meneladani kobaran semangatnya. Lalu mengapa masih ada yang menyangsikan terhadap track record kepahlawanannya?. Apa dosa Bung Tomo sebagai seorang pejuang Suroboyo sehingga Pemerintah Indonesia masih enggan menyematkan tanda pengakuan sebagai Pahlawan Nasional kepada beliau ?.

Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Pemurah. Semoga kita sebagai makhluk ciptaanNya senantiasa termasuk orang-orang yang dikaruniaiNya sifat pandai bersyukur dan sifat pemurah terhadap sesama kita.

Tanda Pahlawan mungkin tidak penting. Pahlawan bagi suatu bangsa itu penting. Meneladani kepahlawanan adalah jauh lebih penting.(fiq)

SUMPAH ‘tanpa’ PEMUDA

Posted on October 28th, 2008 in SoRot by taufiq

Pemuda MembaraHari itu, Minggu, 28 Oktober 1928, diadakan Kongres Pemuda ke-2 oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) di Gedung Oost-Java Bioscoop Jakarta, dengan agenda pembahasan tentang masalah pendidikan. Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro yang diberi kesempatan sebagai pembicara, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di rumah dan di sekolah. Dan yang lebih penting adalah anak harus dididik secara demokratis.

Di hari itu juga, Soenario menambahkan bahwa pentingnya pendidikan nasionalisme dan demokrasi disamping gerakan kepanduan. Begitu juga Ramelan mengemukakan, bahwa gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Dalam masa perjuangan perlu pendidikan gerakan kepanduan, karena pembekalan kepanduan sejak dini akan mendidik anak-anak berdisiplin dan hidup mandiri.

Akhirnya Kongres itupun ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia, yang kemudian diabadikan hingga sekarang dengan sebutan SUMPAH PEMUDA, yang berbunyi sebagai berikut:

  • Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku, Bertumpah Darah yang Satu, Tanah Indonesia
  • Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku, Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia
  • Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia

Itulah sepenggal sejarah bangsa kita yang dilakoni oleh Pemuda-pemuda jadul kita. Tak ada yang terpikir oleh mereka selain rasa persatuan dan mempersatukan anak bangsa.

Marilah kita sejenak bersama, menerobos lorong waktu, kembali ke jaman dulu itu, dan bayangkan seolah kita telah berada di tengah-tengah di antara mereka, pejuang-pejuang pemuda di masa itu. Rasakan … nikmati saja gelora dan semangat heroisme yang timbul menyusup ke tubuh kita, sejenak saja, sepuluh detik saja. Apa yang kita rasakan?, benar … ada gejolak semangat berapi-api demi persatuan membela tanah air. Saya yakin, jika kita meluangkan waktu sejenak saja seperti yang telah kita lakukan ini, niscaya … kebersamaan, semangat bersatu, dan rasa persaudaraan sesama anak bangsa akan tetap senantiasa terjaga sampai kapanpun. Itulah yang harus kita pertahankan.

Di saat ancaman disintegrasi mulai muncul di sana-sini, di saat musibah datang silih berganti, di saat terpaan badai ekonomi tak kunjung berhenti, di saat-saat kejadian terburuk yang tak ayal namun pasti, akan menggelontor siapa saja tanpa pilih kasih. Keadaan pun akhirnya merubah segalanya, anak-anak yang seharusnya berhak menuntut ilmu di sekolah, kini telah kedapatan tak lagi bisa menikmati masa belajarnya. Himpitan ekonomi telah memaksa keluarganya hingga memilih jalan pintas dengan memberhentikan sekolahnya kemudian bekerja membantu mencari nafkah hanya sekedar untuk bertahan hidup.

Bahkan fakta yang lebih menghebohkan saat ini adalah ada seorang bocah perempuan usia 12 tahun telah diberhentikan sekolahnya oleh orang tua si bocah, hanya karena untuk dikawinkan dengan seorang pengusaha kaya raya yang berusia lebih tua delapan tahun dari ayah bocah itu. Bocah perempuan itu akan dijadikan sebagai istri kedua. Perkawinan ini terjadi dan disepakati, lagi-lagi hanya karena tergiur gelimang harta benda. Si Bocah dikawini dengan dalih akan dipercaya dan diserahi tugas sebagai pemegang beberapa perusahaan besar yang dipimpin oleh pengusaha kaya raya itu.

Sungguh … punya terlalu banyak harta telah membutakan segalanya, sungguh … telah hilang sifat manusiawi manusia, sungguh … nyata benar bahwa harta benda telah memperbudak manusia. Sungguh … ancaman serius terkini adalah pembodohan generasi. Sungguh … harta dunia telah membuat pongah manusia. Sungguh … ironis bahwa keluhuran kultur kepemudaan telah “dijungkal-balikkan” oleh fakta pembodohan generasi. Ah! sungguh … sebuah “kado ultah” Sumpah Pemuda yang memprihatinkan.

Sumpah Pemuda, kini seolah hanya sumpah yang tak lagi dihiraukan oleh pemudanya. Seolah tak ada lagi gelegar semangat yang menyambutnya, apalagi memperingati, bahkan memeriahkannya. Kalaupun ada yang menyelenggarakan peringatan, mudah-mudahan bukan oleh karena keterpaksaan dan aksi setengah hati sebagai syarat simbolis semata.

Sumpah Pemuda … terlihat perlahan terkikis oleh gebyar teknologi dunia yang bervirus individualistis kapitalis. Sumpah Pemuda … semoga kini bukan hanya sekedar ritual pembacaan sumpah, tapi sumpah yang benar-benar mengalir di setiap butiran sel darah generasi pertiwi Indonesia, dan benar-benar sumpah refleksi pemuda generasi nusantara berjiwa nasionalis. (fiq)

Prahara Berulang

Posted on May 27th, 2008 in SoRot by taufiq

Polisi menangkap para mahasiswa Universitas Nasional (Unas) yang terlibat bentrok dengan polisi saat melakukan unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM, di depan kampus Unas, Jakarta Selatan, Sabtu (24/5/2008).

Lagi, insiden lama beda pemeran terulang. Lagi, bentrok yang sudah sering disuguhkan di media kembali ditayang. Lagi, darah tertumpah dari tubuh mahasiswa karena pukulan polisi garang. Lagi, sebuah kampus diserbu diserang. Lagi, potret institusi pendidikan diinjak-injak oleh keangkuhan tak tergalang. Lagi, sebuah fenomena hidup manusia antara girang, ganyang, dan mengerang. Sesama saudarapun perang.

Entah sampai kapan prahara ini ‘kan berulang ?, Entah sampai kapan .. terhadap manusia bumi dan alam ini masih bersikap diam dan tenang ?, Entah sampai kapan manusia melumuri republik ini dengan murka yang tak terbilang ?

BLT (Bikin Lurah Takut)

Posted on May 23rd, 2008 in SoRot by taufiq

BLT kini ‘ditampakkan’ lagi, bantuan ini adalah salah satu upaya pemerintah untuk mengantisipasi pengaruh kenaikan BBM terhadap rumah tangga miskin. BLT yang kepanjangannya adalah Bantuan Langsung Tunai itu diberikan secara cuma-cuma kepada Rumah Tangga yang dikategorikan miskin menurut Data yang dihimpun oleh BPS (Badan Pusat Statistik).

Namun di satu pihak, BLT justru dianggap sebagai sumber masalah bagi dirinya, sebut saja para Lurah, bila penyaluran dana BLT tidak merata, para Lurah-lah yang akan jadi sasaran warganya karena dianggap pilih kasih atau tidak menyalurkan bantuan itu secara merata. Jadi dalam program ini, ada satu pihak yang merasa akan mengalami ‘penganiayaan’ oleh karenanya.

Bangkit ke-100

Posted on May 22nd, 2008 in GaleRia, SoRot by taufiq

harkitnas-ke-100.jpg

100 Kali Peringatan Hari Kebangkitan Nasional,

masihkah dengan momen yang sama ?

Tegakah Menaikkan BBM ?

Posted on May 9th, 2008 in SoRot by taufiq

 bbm naik semua ikut naik

Ayo-ayo siapa ikut naik ? … rekening listrik, air, biaya pendidikan, dll., … ayo ikut !.. “balon gas” BBM segera dinaikkan … !

Setengah Tiang

Posted on May 9th, 2008 in SoRot by taufiq

Ada yang mungkin terlewati oleh perhatian kita. Sejak bulan kemarin saya amati ada yang janggal di sudut pintu gerbang utama Unair Kampus B. Di sana terpasang satu bendera dengan formasi setengah tiang.

Nah pertanyaannya, dalam rangka apakah koq memasang bendera setengah tiang ?, sudah ada ijin secara formalkah ?, atau maaf, mungkin saya yang ketinggalan informasi terhadap keberadaan dan tujuan pemasangan bendera di situ ?.

Padahal pada sisi tempat yang lain (di depan bekas gedung rektorat lama), hingga kini bendera Merah Putih telah dinaikkan satu tiang penuh pada upacara Hardiknas beberapa hari yang lalu.

(Pada saat berita ini saya posting, keberadaan bendera setengah tiang itu masih ada pada tempatnya).

Ketika Pendidikan Tak Lagi Mendidik

Posted on May 3rd, 2008 in SoRot by taufiq

Kemarin, tanggal 2 Mei, seperti biasanya ada kegiatan peringatan rutin tahunan Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional). Kali ini bukannya pemberian penghargaan atas sebuah prestasi pelajar atau pengajar yang tampak, namun kericuhan demontrasi pro-kontra tentang seputar sistem pendidikan kita yang gaung beritanya justru menyebar serentak dimana-mana.

Ketika suatu pendidikan tak lagi dianggap tak berperan edukasi, ketika pendidikan hanya sebuah proses inovasi, ketika pendidikan hanyalah sarana promosi, ketika pendidikan jadi wahana moving education systems, dan ketika pendidikan sudah mulai dibandrol komersial, maka … ketika itu pulalah sebuah kesangsian terjadi pada diri masing-masing siswa yang telah dididik maupun belum terdidik. Dalam hati mereka bertanya … bagaimana dengan nasibnya kelak ?

Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani“, sudahkah benar-benar menyatu dalam ‘nafas’ pendidikan yang dikesankan paling canggih selama ini ?.

Semoga kelak, Bapak Pendidikan kita Ki Hadjar Dewantara atau sebelumnya bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, pelopor Perguruan Taman Siswa yang tanggal kelahiran beliau (2 Mei 1889) diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, resminya sejak tahun 1959, dapat tersenyum bangga atas prestasi pendidikan di negeri ini.

Dan bagi kita, semoga tidak hanya dapat merasakan capeknya melakukan rutinitas tahunan Upacara Bendera Hardiknas saja, tetapi diharapkan ada yang lebih bermakna daripada sekedar ikut ‘gabung’ berdiri, dan memandang saja. Ketahuilah di sekitar kita masih banyak ‘young eyes‘ dengan pandangan kritis dan penuh tanya atas perilaku kita. Begitukah berperilaku dalam upacara bendera ?

Next Page »