Soetan Sjahrir

Posted on March 5th, 2014 in Tokoh by taufiq

* * *  Mengenang tokoh nasional Soetan Sjahrir atau Sutan Sjahrir,

  •   Lahir tanggal 5 Maret 1909, di Padang Panjang, Sumatera Barat.
  •   Wafat di Swiss, tanggal 9 April 1966.
  •   Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Und setz ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein atau “Hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan”, kutipan sepenggal sajak dari penyair Jerman, Friedrich Schiller. Sepenggal kalimat itu selalu melekat dalam ingatan dan kehidupan Sutan Sjahrir.

sjahrir.gifSutan Sjahrir seorang Real-politiker dari Indonesia. Sjahrir melihat bahwa politik seringkali digunakan sebagai sikap mempertaruhkan hidup dan hanya untuk memenangkan hidup, ibarat seorang politikus romantis yang tidak memahami cara kerja mesin kekuasaan atau mechanics of power dalam politik praktis.

Sikap itu tidak sesuai dengan kenyataan hidup Sjahrir. Di dasar hati Sjahrir justru lebih mendambakan kebebasan bagi setiap orang atau individu-individu yang dapat menggunakan akal pikirannya untuk bertanggungjawab terhadap cita-cita dan tindak-perbuatannya masing-masing.

Sjahrir tak pernah memandang politik sebagai tujuan, dan bahkan kemerdekaan nasional bukan menjadi tujuan akhir politiknya. Kemerdekaan nasional hanyalah langkah mewujudkan martabat manusia dan kesejahteraan bagi bangsanya, sedangkan politik hanyalah jalan mencapai kemerdekaan nasional.

Mengenang semua ini pada saat sekarang dan membicarakan kembali pengertian, apresiasi serta keyakinan politik semacam itu, mungkin akan timbul kesan bahwa betapa jauh ideal politik bagi Sjahrir dari praktek politik di Indonesia saat ini.

Terlalu bermimpi jika mendambakan kesejahteraan untuk semua orang tanpa terlalu banyak kemiskinan, dan juga kebahagiaan semua orang dalam kebebasan tanpa terlalu banyak kekangan dan hambatan. Kemandirian adalah lawan dari ketidak-matangan, kebebasan adalah lawan dari ketergantungan.

Kebebasan dalam pengertian Sjahrir bukan sekedar kebebasan politik, melainkan keleluasaan jiwa yang memandang dunia dengan gembira tanpa prasangka, yang tidak terhambat oleh kekangan dan kecurigaan-kecurigaan sempit.

Namun Sjahrir juga menyadari bahwa politik dengan muatan moral yang demikian berat, tak akan menang dalam waktu singkat. Politik Sjahrir kalah dan dikalahkan oleh kekuasaan politik.

Kini tertinggal pada kita adalah suatu etos politik, yang memberi keyakinan bahwa martabat manusia dengan jiwa klasiknya tak selalu dapat dimenangkan, tetapi sungguh tak akan pernah dapat dikalahkan untuk selamanya.

Sjahrir telah memenuhi janjinya, dia mempertaruhkan hidupnya dan dia sudah memenangkannya. (fiq)

 

Referensi :

  • Buku : “Sutan Sjahrir : Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan”, karya H. Rosihan Anwar, Penerbit : Kompas & KITLV, Jakarta 2010.
  • Google

Post a comment

You must be logged in to post a comment.