Untuk Ibu di Hari Ibu

Posted on December 22nd, 2008 in Ma' News by taufiq

Ibu Dewi SartikaHari Senin 22 Desember 2008, kulihat fenomena yang berbeda dan juga berita-berita tentang hal sama yang kubaca di beberapa media, mulai headline surat kabar, kekompakan penampilan berbusana nasional wanita karir di lingkungan kerja Perpustakaan Unair, pembagian 500 kuntum bunga kepada ibu-ibu penumpang di dalam gerbong ekonomi maupun eksekutif oleh PT Kereta Api, penyerahan tanda penghargaan Parahita Ekapraya oleh Presiden SBY di Plennary Hall Jakarta Convention Centre, hingga demonstrasi oleh mahasiswa menuntut UU BHP (Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan) pun juga semua mencantumkan tajuk tentang perempuan khususnya ibu. 

Kita semua tentu juga tahu bahwa hari itu adalah Hari Ibu, diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas perjuangan para ibu-ibu pendahulu kita yang pada zaman itu dipelopori oleh Ibu Dewi Sartika sebagai pahlawan implementor gerakan ke-perempuan-an setelah pahlawan Ibu Kartini sebagai motivator atau perintisnya.

Melalui blog ini, Muara Qolbu juga ingin mengucapkan Selamat Hari Ibu kepada seluruh ibu-ibu di manapun berada, sebab walau bagaimanapun ibu adalah tetap sosok penting yang berperan paling utama di dalam keluarga, seperti pesan nabi Muhammad saw di kala ada umat beliau yang bertanya, bahwa siapakah orang yang wajib kita hormati dan patuhi ?, beliau menjawab “Ibu”, … lalu berikutnya siapa ? “Ibu”, dan setelah itu siapa lagi ya Rasul ?, ”Ibu”. Begitulah, karena terlalu berharganya perjuangan ibu di dalam keluarga, beliau sampai menganjurkan 3 (tiga) kali penghormatan utama kepada seorang ibu.

Ingat juga pesan bijak seorang ayah kepada anaknya, untuk ibu :

“Anakku, puncak kesedihan adalah tangis, puncak kebahagiaan pun juga tangis. Selebihnya, belajarlah untuk menghormati ibumu. Cintailah ia dengan penghormatan yang tinggi dan perhatian yang tulus. Sesungguhnya, surgamu ada di telapak kakinya. Kalau sekali waktu ibumu tampak membelalak atau wajahnya sedikit cemberut, ketahuilah nak … tentang penat yang ia rasakan, karena harus menyayangimu tanpa batas waktu”.

Ibu, engkaulah insan lemah berhati emas, senyum tegar s’lalu menghias, sungguh kasihmu tiada batas, seluas ikhlas tanpa berbalas. (fiq)

Post a comment

You must be logged in to post a comment.