Donkeys, Biblioburro’s bookmobile Soriano

Posted on October 22nd, 2008 in PerpusMania by taufiq

biblioburro2.jpg

Sebuah satu fenomena lagi, bahwa buku mutlak diperlukan di segala kondisi, di segala usia, dan di segala bangsa.

“I started out with 70 books, and now I have a collection of more than 4,800,” said Mr. Soriano, 36, a primary school teacher who lives in a small house here with his wife and three children, with books piled to the ceilings. His choices included “Anaconda,” the animal fable by the Uruguayan writer Horacio Quiroga that evokes Kipling’s “Jungle Book”; some Time-Life picture books (on Scandinavia, Japan and the Antilles); and the Dictionary of the Royal Academy of the Spanish Language.

“Buku adalah jendela dunia. Berpedoman pada ungkapan tersebut, Luis Soriano mau bersusah payah ”menjajakan” perpustakaan keliling desa, ditemani dua keledainya, Alfa dan Beto. Ritual yang dia lakoni tiap akhir pekan itu sukses membukakan wacana masyarakat miskin La Gloria di pedalaman Karibia, Kolombia Utara”, demikian petikan bunyi berita di koran jawapos edisi 22 Oktober 2008.

Sungguh … berita ini sekian detik telah menghenyakkan saya yang membacanya, bahwa ternyata masih ada, dan jauh dari negara kita Indonesia, seorang yang begitu tulus dan gigihnya berupaya untuk mencerdaskan bangsanya dengan memberikan layanan perpustakaan keliling, meski berfasilitaskan hanya 2 (dua) ekor keledai sebagai media koleksi pustaka yang dimilikinya.

sorino-biblioburro.jpgTindakan mulia mengemas perpustakaan dalam bentuk biblioburro tersebut muncul di benak Soriano setelah dia merasakan sendiri kekuatan buku. “Dengan membaca buku, murid-murid saya mampu mengubah sikap mereka ke arah yang lebih baik,” ujarnya. Meskipun La Gloria termasuk wilayah rawan dan tidak jarang menjadi ajang konflik terbuka, anak-anak didik Soriano tetap setia menunggu biblioburro melintas. Di setiap perhentian, anak-anak kecil berkumpul menantikan Soriano, dua keledai, dan tumpukan buku bawaannya. Anak-anak begitu setia menunggu sang guru datang untuk sekadar membacakan buku cerita. Selanjutnya, mereka pun berebut memilih buku-buku cerita yang bisa mereka pinjam. Lantas, ketika Soriano melintas lagi pekan berikutnya, mereka akan mengembalikan buku-buku yang dipinjam dan mengganti dengan yang baru.

Ketulusan itupun berbalas, akhirnya rutinitas yang dilakukan Soriano selama itu telah menjadikan pria sederhana tersebut sebagai “selebriti” di wilayahnya. Proyek biblioburro-nya yang mirip perpustakaan keliling tersebut pun mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Pakar-pakar sastra Kolombia memuji proyek mulia Soriano. Bahkan, kisah guru sekolah dasar itu akan segera diabadikan dalam film dokumenter garapan Carlos Zipaguata.

sumber: Surat kabar Jawa Pos edisi Rabu, 22 Oktober 2008 ; http://angryxer.wordpress.com

Post a comment

You must be logged in to post a comment.