Spectacular Moment

Posted on July 25th, 2008 in Syi'ar Jum'ah by taufiq

Isra Mi’raj merupakan peristiwa perjalanan spektakuler yang pernah dilakukan manusia. Betapa tidak, Rasulullah Muhammad SAW melakukan perjalanan malam hari dan dalam waktu yang amat singkat, yaitu dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Dari Al-Aqsa, Beliau naik ke langit melalui beberapa tingkat, menuju Baitul Makmur, Sidratul Muntaha (tempat tiada berbatas), Arasy (tahta Allah), hingga Beliau menerima wahyu langsung dari Allah SWT tanpa perantaraan malaikat Jibril. 

Makna peringatan Isra’ Mi’raj adalah menguji keteguhan umat Islam, apakah wahyu masih membimbing akal kita, apakah justru kita telah menafikan wahyu lantas keterlaluan asyik dengan logika dalam kehidupan beragama. Aneh memang, jika masih ada perdebatan tentang bagaimana Rasulullah SAW menempuh perjalanan Isra’ Mi’raj itu. Aneh jika kita masih mengira apakah Rasulullah melakukan perjalanan luar biasa itu berikut roh dan fisik, ataukah hanya sekadar roh saja, dalam arti Rasulullah SAW mengalami peristiwa Mi’raj hanya dalam mimpi.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ 

Ketahuilah, keraguan kita sama saja dengan pengingkaran terhadap firman-Nya : “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Al-Israa’: Ayat 1).

Peristiwa spektakuler ini terjadi pada … 27 Rajab, tepatnya satu tahun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Di malam Isra Mi’raj itu, Rasulullah SAW menyaksikan pula berbagai peristiwa yang erat kaitannya dengan perilaku umatnya sebagai khalifatullah. Ditunjukkan kepada beliau akhirat, yang terbagi dalam dua wilayah : surga dan neraka. Baginda Nabi menyaksikan betapa penderitaan mereka yang berbuat durhaka. Baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia.

Allah SWT juga telah menunjukkan kepada Rasulullah SAW, bahwa iman dan akidah yang teguh akan mendapat balasan baik dari-Nya. Orang yang rajin beramal saleh, kukuh berjihad di jalan Allah, akan diberi balasan berlipat-ganda. Bak seorang yang sekali menanam, namun hasil yang diperoleh bisa dituai berulang-kali. Baginda Nabi menyaksikan itu terjadi pada keluarga Mashitoh, pembantu Fir’aun yang dibunuh oleh suruhan Pharaoh. Allah SWT telah memuliakan Mashitoh dengan serba kenikmatan. Berkat ketabahannya menggenggam kalimat tauhid : “Tiada Tuhan selain Allah”.

Peristiwa Isra Mi’raj menandaskan kepada manusia, bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Mendengar. Nyata Allah telah meringankan kewajiban menunaikan shalat, ketika perintah shalat diturunkan kepada Rasulullah SAW. Bermula dari perintah agar umat Islam mengerjakan shalat 50 kali sehari-semalam. Setelah Baginda Nabi dihimbau oleh Nabi Musa a.s. untuk kembali mengajukan permohonan keringanan (sebanyak 9 kali), Allah SWT telah mengurangkannya hingga 5 kali saja sehari-semalam. Bukan tak niscaya, jika saja Baginda Nabi mengajukan permohonan untuk mengurangi bilangan kewajiban itu, Allah SWT akan mengabulkan permohonannya. Tapi karena besarnya rasa malu Rasulullah SAW terhadap Allah, kendati Nabi Musa a.s. pesimis bahwa umat Islam tak akan lalai dari mengerjakan kewajiban itu, Baginda Nabi tak lagi mengajukan pengurangan jadwal shalat wajib.

Andai umat Islam atau seluruh umat manusia mengimani bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj ini benar-benar dialami Rasulullah SAW, maka tak akan ada yang lalai dari berbuat benar dan menegakkan shalat lima waktu. Pada hakikatnya, setiap Isra’ Mi’raj diperingati, setiap itu kita diuji. Apakah kita telah khusyuk dan tertib menunaikan kewajiban shalat lima waktu, apakah kita konsisten memilih kebenaran ketimbang keburukan, dan apakah kita percaya betul bahwa umat Islam adalah umat pilihan yang kelak lebih dulu masuk ke surga, daripada umat-umatnya yang lain ?

Sebagai pribadi berakhlak mulia, Rasulullah SAW sangat menjauhi sikap egois. Beliau ingin ucapan salam dan “undangan” Allah tersebut dirasakan segenap umatnya. Beliau kembali ke bumi dengan membawa salam keselamatan dari Allah SWT lewat perintah shalat. Inilah kado spesial dari Allah SWT bagi orang-orang berimanAndai kita tarik garis merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini. Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan.

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ 

Ketiga hal ini terangkum dengan sangat indah dalam Alquran, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah [2]: 45-46).

Post a comment

You must be logged in to post a comment.