Motivasi yang Benar

Posted on June 20th, 2008 in IslaMy by taufiq

Dulu pernah ada seorang juri berkata kepada kontestan peserta Pildacil yang baru saja usai memberikan “taushiyah”. Juri ini berkata “Kamu terbaik saat ini. Ini yang diinginkan juri. Beberapa tahun ke depan, rumah dan mobil kamu akan mewah. Kamu juga akan bisa membangun masjid”.

Wow, sebuah “nasihat” yang membuat miris. Sebuah “nasihat” yang seharusnya membuat orang tua ngeri membayangkan masa depan anaknya. Padahal bukankah Allah swt telah berfirman, ’Katakanlah : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.’ (QS. Al-An’am [6] : 162-163)

Kunci paling pokok mengantarkan anak meraih sukses adalah dengan membentuk jiwanya, membangun motivasi, membakar semangat, dan mengarahkan orientasi hidupnya semenjak dini. Kita bakar semangatnya untuk bersungguh-sungguh melakukan yang terbaik demi sebuah idealisme yang buahnya ada di surga.

Orientasi hidup inilah yang perlu kita tanamkan pada anak-anak kita. Kita tumbuhkan pada dirinya orientasi hidup yang bersifat spiritual sejak usia kanak-kanak. Kita bangkitkan cita-cita untuk menjadi orang yang paling banyak memberi manfaat bagi agama dengan harta dan jiwanya. Semoga dengan itu, ia menjadi orang yang ikhlas dalam memberikan harta, hidup, dan dirinya bagi agama.

Ini semua merupakan akar motivasi. Di sekolah, hal-hal yang bersifat motivasional tersebut secara keseluruhan, termasuk bagian dari dasar-dasar berpengetahuan (The basic of knowing) yaitu bagian penting pendidikan yang harus kita bangun pada para peserta didik di jenjang sekolah dasar, terutama kelas satu sampai tiga. Mudah-mudahan dengan itu anak kita memiliki motivasi intrinsik yang kuat. Bukan motivasi ekstrinsik, yakni tergeraknya seseorang melakukan sesuatu karena dorongan dari luar. Bukan karena merasa apa yang dilakukannya itu baik dan memang seharusnya dilakukan.

Jika motivasi intrinsik memiliki akar yang kuat sehingga sulit diruntuhkan, maka motivasi ekstrinsik justru mudah patah tanpa perlu kita patahkan. Semakin intrinsik memotivasi seseorang, semakin kuat daya tahannya melakukan sesuatu dengan penuh semangat.

Post a comment

You must be logged in to post a comment.